Skip to main content

pelalawan tribun

pelalawan tribun

Like & Shere

Pemkab Pelalawan Bersiap Gelar Festival Bono Surfing 2018, Ini Jadwalnya
Penyuluhan Program Kampung KB.
Desa Kesuma terpilih menjadi salah satu Kampung KB di Kab. Pelalawan.
Semoga kedepannya bisa bersinergi dengan pihak terkait. Guna untuk mensukseskan apa yg menjadi Program Pemerintah terkait.
29/10/2018
Rapat Dewan Pengupahan Kabupaten Pelalawan - Rekomendasi Upah Minimum Kabupaten Pelalawan Tahun 2019 sebesar Rp.2.766.919,08
Cuaca mendung d negri ku pelalawan
Hari terakhir program
-----------------------------------
MEMBANDINGKAN VAKSINASI MR / RUBELLA DI INDONESIA DENGAN DI ARAB SAUDI

Hari ini, 31 Oktober 2018 adalah hari terakhir perpanjangan Program nasional vaksinasi MR/  Rubella Fase II untuk 28 Provinsi di luar pulau Jawa.

Saya sebagai orang tua yang kebetulan kesemua anak anaknya masuk program ini tergelitik untuk menulis dari melihat kondisi yang ada. Meski terlambat atau di hari terakhir menuliskannya, semoga ada sisi pencerahan yang bisa ikut membantu tentang MR Rubella ini.

Tercapaikah target pemerintah 95 persen cakupan anak 9 bulan sampai 15 tahun sebanyak 31,9 juta orang hingga berakhirnya program ini di Oktober 2018? Tidak tampaknya.

Data terakhir yang saya dapat, per 15 Oktober 2018 total capaian imunisasi MR di Indonesia hanya sebesar 61,04 persen dari target 95 persen.

Posisi Provinsi Riau dalam pencapaian targetnya hanya separuh lebih sedikit dari rata rata nasional, hanya 37,3 persen dengan urutan ketiga dari yang terendah. Di bawah Riau, adalah Sumatera Barat dengan pencapaian 35,5 persen. Paling rendah di luar Jawa secara nasional adalah Provinsi Aceh hanya dapat 8,9 persen. Rendah.

Kota Pekanbaru tempat saya tinggal, saya baca di koran Tribun Pekanbaru tadi pagi lebih rendah lagi dari rata rata Provinsi Riau, kurang dari separuh rata- rata nasional. Hingga 30 Oktober, 2018 hanya 25,9 persen saja, yang mana 281.000 target anak hanya 72.800 anak baru yang terpenuhi di 21 Puskesmas wilayah kota Pekanbaru. Sangat rendah.

Adapun untuk Kabupaten Pelalawan tempat saya bekerja sudah lebih baik, di atas rata rata Provinsi, yakni 52%, (nomor 2 tertinggi setelah Kab. Kuansing), lumayan, alhamdulillah. Tetapi tetap saja rendah, dan juga masih di bawah rata - rata nasional.

Mungkin sudah pada tahu kenapa atau apa penyebab rendahnya partisipasi masyarakat tentang vaksinasi ini, ya terutama karena issue mengandung babi yang dinilai haram haram dan beberapa disinformasi plus info hoax tentang vaksin MR lainnya.

Di sekolah anak saya yang kedua (SD Al Azhar Syifa Budi) yang termasuk awal awal melaksanakan program ini, di kelasnya yang 25 orang, kurang dari separuh temannya yang ikut.

Di SD anak saya yang paling kecil (SD IT Al Kindi) yang baru dilaksanakan minggu lalu, Rabu 24 Oktober dari 31 siswa di kelasnya , hanya 7 yang ikut, termasuk anak saya tentunya.

Di sekolah anak saya yang paling besar (MTsN no 1 Pekanbaru) yang baru saja dilaksanakan dua hari lalu Senin, 29 Oktober 2018, tidak sampai 10 siswa dari 28 orang di kelasnya. Memang rendah.

Saat saya tanya ke mereka, kenapa teman - temannya banyak yang tidak ikut. Jawaban mereka hampir sama, "katanya haram yah.. Ada daging babinya, ada minyak babinya" Daging babi atau minyak babi? "Pokoknya ada babi babinya gitu lah. Kata orang tua teman teman begitu, jadi tidak dibolehkan". Kan fatwa MUI nya boleh karena belum ada yang selain itu? Pokoknya haram gitu lah yah kata teman - teman dari orang tuanya.

Panjang bila diulas satu satu tentang issue haram, disinformasi dan hoax tersebut. Hal yang sudah sering kita bahas di diskusi langsung maupun via chat dan grup WA masing-masing. Kalau pun diurai dan dijelaskan, orangtua yang resisten / menolak tetap saja bergeming karenanya. 😁

Tetapi satu untuk dicatat bahwa vaksin MR itu sendiri tidak mengandung babi, enzim babi hanya dipakai sebagai alat untuk mempercepat / katalisator untuk terbentuknya vaksin. Pada saat vaksin sudah jadi, katalisator tersebut dibuang / dipisah.

Baik, sekarang mari kita lihat dari dan  membandingkan dengan negara Arab Saudi saja sebagai contoh atau pedoman.  Memaparkan dari perbandingan dengan yang ada dan terjadi di negara Arab Saudi, negara asal muasal Islam, tanah kelahiran nabi Muhammad SAW, sebuah negara yang dapat menjadi patron semestinya tentang hal ini bila dikaitkan dengan hukum agama dalam penggunaannya.

Apakah vaksin Rubella di Arab Saudi sama dengan di Indonesia? Yakni sama sama menggunakan atau mengandung enzim babi? Iya sama. Berarti haram dong? Iya haram. Apakah vaksinasi MR juga diprogramkan di Arab Saudi? Iya diprogramkan. Berarti Arab Saudi juga mengeluarkan Fatwa boleh karena belum adanya yang halal? Tentunya demikian.

Oke. Lalu kapan dilaksanakan program tersebut, dan apakah respon masyarakatnya juga rendah seperti di Indonesia? Arab Saudi yang pemahaman agama (Islam) para warganya lebih baik atau paling tidak, tidak lebih rendah dari masyarakat Indonesia bagaimana responnya terhadap vaksinasi MR ini? Rendah juga kah? Tinggikah resistensinya terhadap MR Rubella?

Dengan googling  MMR vaccine In Arab Saudi anda akan tahu jawabannya (2 link terkait saya lampirkan di 2 komen pertama di bawah ini).

Ternyata di Arab Saudi sudah dilakukan sebelum Indonesia melakukan. Kalau Indonesia, negara kita fase I pada tahun 2017, dan fase II Agustus 2018, di Arab Saudi  sudah dari tahun 2015. Duluan dua tahun dari Indonesia yang dimulai untuk 3 juta anak saat itu.

Bila range umur anak yang kena program ini di Indonesia adalah umur 9 bulan sampai 15 tahun, Arab Saudi anak dengan range  sampai 18 tahun. Lebih panjang rentangnya 3 tahun dari Indonesia.

Pada tahun 2016 sudah 90 persen anak anak di Saudi Arabia disuntik imunisasi Rubella. Kita baru 61 persen pada Oktober 2018 ini. 90 persen di Arab Saudi itu 2 tahun yang lalu lho.. Tentunya tahun ini sudah lebih tinggi lagi.

Setahun berikutnya, tahun 2017 Arab Saudi menyediakan imunisasi setiap hari bahkan di lebih 2000 pusat kesehatan masyarakat mereka. Indonesia pasca berakhir perpanjangan ini? Belum tahu.

Arab Saudi lebih dulu dan sudah hampir semua anak anaknya di imunisasi dibandingkan dengan negara kita Indonesia.

Apakah pemerintah, ulama dan masyarakat Arab Saudi lebih kurang ilmu dan pemahaman agamanya dari pemerintah, ulama dan masyarakat Indonesia? Dan begitu saja menerima dan menjalankan program MR Rubella yang haram dengan begitu antusias di seluruh lapisan masyarakat mereka? Yuuk mari berpikir.

Arab Saudi dapat menjadi perbandingan bagaimana masyarakatnya respon dan antusias untuk vaksinasi anak anak mereka, sekaligus juga dapat menjadi pertimbangan bagi yang masih belum mau untuk memvaksinasi anaknya.

Sebagai catatan penutup :

1. Campak dan rubella itu tidak ada obatnya dan hanya bisa dicegah dengan vaksinasi campak dan rubella, dengan tercapainya herd community, yakni dalam satu lingkungan itu persentase anak yang divaksinasi tinggi itu virus yang disebar itu bisa distop. Angka 95% itulah pemerintah merasa aman, Safe. Masih kurang 30 persen lebih lagi

2. Campak masih merupakan penyakit yang dapat menyebabkan kematian, sedangkan rubella akan menyebabkan kecacatan pada janin jika terkena pada ibu hamil. Campak bisa menyebabkan kematian karena komplikasinya bayi mengalami gangguan pendengaran, gangguan pada perkembangan otak, anaknya bisa terbelakang dan bisa lumpuh syarat motoriknya.

3. Dari data Kementerian Kesehatan antara 2010-2015 terdapat 23.000 kasus campak dan 3.000 kasus rubella. Tetapi perkiraan jumlah kasus campak dan rubella bisa jadi lebih tinggi karena banyak kasus tidak dilaporkan. Di Asia Tenggara dan Afrika, kasus rubella mencapai 120.000 setiap tahun. Tidak harus menunggu mayat bergelimpangan dulu atau para bayi banyak yang cacat, mencegah itu jauh lebih baik.

"YUUK.. SELAMATKAN ANAK ANAK KITA, GENERASI BANGSA, KETURUNAN KITA DENGAN SALAH SATUNYA IKUT VAKSINASI MR / RUBELLA."

"BILA PROGRAM KE SEKOLAH SEKOLAH TIDAK DIPERPANJANG LAGI, MASIH BISA DATANG KE PUSKESMAS ATAU POSYANDU TERDEKAT".

MARI AMANKAN ANAK- ANAK KITA, AMANKAN LINGKUNGAN KITA DENGAN HERD COMMUNITY YANG KUAT.

SILAHKAN HUBUNGI PUSKESMAS TERDEKAT!"  😁😍


Comments

Popular posts from this blog

Stand April di Pelalawan Expo 2018

Kami kembali ikut meramaikan Pelalawan Expo 2018. Ayo kunjungi stand APRIL di Blok 1 No.1 mulai dari tanggal 6-12 Oktober 2018. Sahabat bisa melihat bagaimana proses produksi dari kayu menjadi kertas atau dari kayu menjadi serat kain. Sentuh teksturnya, raba, dan lihat dari dekat.

Sahabat juga bisa ikut belajar membatik lho, juga bisa mencicipi produk-produk mitra binaan Community Development RAPP, dan jangan lupa sahabat berfoto selfie/wefie saat di booth APRIL ya, lalu post ke instagram, follow dan  tag @sahabatRAPP jangan lupa sertakan hashtag #APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP hadiah menarik sudah kami siapkan untuk sahabat dengan foto terbaik 😉.

#APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP #PelalawanExpo2018 #Event #Paperone #GoodforCommunity #GoodforClimate #GoodforCountry #Paper #Industry #Sustainable #Concession #CommunityDevelopment #WomenEmpowerment #BatikBono #business #Riau #viscose #acacia #rayon #lifeatAPRIL #RAPPuntukIndonesia

Wow jokowi

Sembilan Kepala Daerah Kabupaten - Kota se - Propinsi Riau dan Wagubri mendukung secara politis pasangan Capres Ir.Joko Widodo dan Prof.DR.K.H.Maruf Amin sebagai presiden dan wapres tahun 2019-2024.
Walaupun hal tersebut adalah merupakan hak hak individu kepala daerah tsb tapi cukup membuat panas kubu seberangnya dan belum tentu juga rakyat mengikutinya karena rakyat NKRI Propinsi Riau mempunyai hak yang sama dalam hak suara memilih satu orang satu suara bukan lebih.
Kemampuan Kepala daerah yang ganteng2 dgn foto selfie belum tentu mengikuti arah politik pemimpin tsb karena rakyat butuh pembuktian dalam mensejahterakan rakyat Riau dalam berdemokrasi daulat rakyat bukan daulat tuaku.
Kemampuan para pemimpin tsb mendukung tsb apakah karena mendukung tersangkut kasus hukum seperti wako dumai Drs. Zulkifli As Msi dan Zainal Azis Bupati Kampar oleh KPK atau yg lain karena hati nuraninya.
Perintah partai masing masing sebagai pengusung dan pendukung atau kemauan diri sendiri dengan tertarik…