Skip to main content

peta kabupaten pelalawan

peta kabupaten pelalawan

ASAL USUL BATURIJAL

Kenegerian Baturijal terdiri dari dua desa, yaitu Baturijal Hulu dan Baturijal Hilir. Masing-masing mempunyai penghulu. Struktur kenegerian dan kepenghuluan ini tidak sesuai dengan struktur keperintahan Republik Indonesia, sehingga dihilangkan. Hanya saja 4 orang yang sempat menjadi wali negeri yaitu Khalil Ali, Muhamad Noeh, Raja Eman dan Saidina Ali.
Baturijal yang berada ditepi Batang Kuantan ini, mempunyai batas wilayah sebagai berikut :
a. Batas wilayah Baturijal Hulu yaitu :
- Sebelah Utara berbatsan dengan Kab. Kampar dan Pelalawan.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Selunak Kec. Peranap.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pesikaian Kec. Cerenti.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Baturijal Hilir Kec. Peranap.
b. Batas wilayah Hilir :
- Sebelah Utara berbatsan dengan Kab. Kampar dan Pelalawan.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Selunak Kec. Peranap.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Baturijal Hulu Kec. Peranap.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Peranap.

Di desa Baturijal ini ada tiga pulau, merupakan timbunan pasir di tepi batang Kuantan, yaitu : Pulau Baru, Pulau Jambu dan Raman. Karena Pulau Raman berada ditengah Batng Kuantan, disebut juga Pulau Tengah. Pulau ini ada ketika ayek usak (air surut) – musim kemarau. Pada waktu air dalam pulau – pulau yang dimaksud tenggelam. Pulau ini begitu luas, panjangnya mencapai 500 meter bagian paling lebar mencapai 100 meter, dapat dijadikan lapangan bermain sepakbola.
Selain pasir, ada juga bebatuan. Sedangkan lokasi yang banyak batu-besarnya sekitar kepalan-kepalan tinju, hanya sekitar Gaung Kecil, sebelah hulu di tebing tinggi sedangkan sebelah hilir sampau ke Gaung Besar. Batu ini tidak ada ditempat lain.
Konon di tengah kuantan, tidak jauh dari Gaung Kecil dekat tebing tinggi yang penuh kaghak, ada sebuah batu besar, seperti “induk” batu-batu tadi. Garis tengahnya melebihi satu meter. Batu itu dipercayai “hidup”, namun diam diam tidak bergerak. Batu itu setia sampai hijau berlumut menunggu lubuk – tempat paling dalam. Tempat ini merupakan perbatasan antara Baturijal Hulu dan Baturijal Hilir.
Diceritakan pula bahwa batu hijau berlumut itu pernah bertarung dengan batu yang datang dari Jambi. Begitu perkasanya, menyebabkan batu yang datang dari Jambi sempat patah. Batu yang ada di Baturijal merupakan batu perkasa.
Berdasarkan kata-kata, Baturijal terdiri dari batu dab rijal Batu dikaitkan dengan batu yang berada di Gaung Kecil itu. Sedangkan rijal dari bahasa Arab, rijaalun, berarti laki-laki. Baturijal berarti batu jantan. Kalau ada batu jantan, tentu ada batu betina. Sampai sekarang belum ada penjelasannya, kalau memang ada, dimana batu betina itu berada.
Ditinjau dari sudut bahasa, dialek Baturijal mempunyai kemiripan dengan dialek Jambi, mungkin yang memberi nama Baturijal adalah pendatang dari Jambi, penduduk dari desa yang juga yang bernama Baturijal. Selain dialek, khususnya dalam melapazkan R yang sama, ada kata-kata spesifik, tidak dijumpai di tempat lain kecuali di Jambi, yaitu kata ganti Ngan dan Kan. Penggunaan Ngan dan Kan ini menimbulkan keyakinan bahwa penduduk Baturijal, berasal dari Jambi. Untuk mengenang daerah asal, maka mereka memberi nama Baturijsl pula di tempat yang mereka menetap.
Melihat Baturijal secara geografis, memang dekat dengan wilayah Jambi. Kabupaten Indragiri, berbatasan langsng dengan Jambi, sedangkan Baturijal hanya ditengahi oleh Silunak, Pematang. Silunak sendiri sudah berbatasan dengan Jambi. Kemungkinan penduduk Baturijal merupakan pendatang dari Jambi sangat besar. Konon memang ada nama desa di Jambi itu bernama Baturijal. Mereka yang berasal dari Baturijal itulah yang memberi nama tempat tinggal mereka yang baru dengan nama Baturijal pula di tempat yang baru mereka menetap.
Pendatang di Baturijal, bukan dari Jambi. Juga dari etnis Jawa. Mereka banyak dijumpai di Baturijal Hilir, tepatnya dekat Gertak Templong dibawah legheng Peta. Mereka masih menggunakan adat istiadat Jawa. Penduduk desa Baturijal mengenal pecal, dari mereka ini. Sebelumnya tidak kenal itu pecal. Padahal bahannya di Baturijal itu sangat banyak seperti kacang panjang, nangka muda, pucuk ubi, kangkung dan pelayau.
Dari kata Baturijal, batu kerkonotasi keras, sedangkan laki-laki berarti berarti menjadi pemimpin, bersifat jantan, bersikap keras. Dari kata-kata jantan dikait-kaitkan, penduduk desa Baturijal bersifat dan berkemauan keras, berani serta bertanggung jawab. Keberanian itu menyebabkan banyak yang merantau.

Baturijal dalam Konteks Kerajaan Inderagiri

Ada hubungan khusus antara Baturijal dengan kerajaan Inderagiri, menarik untuk dikaji. Sebuah kerajaan Minangkabau bernama Pagaruyung, tidak berbeda dengan kerajaan-kerajaan lain, ingin memperluas kekuasaannya. Di bawah pemerintahan Sultan Muning (1720-1770) sangat bernafsu mengembang wilayah kekuasaan ke daerah lain. Tersebutlah Datuk Rajo Dobalang di bawah kekuasaan Raja Pagaruyung melakukan ekspansi ke arah timur yaitu ke wilayah Kuantan. Datuk Rajo Dobalang ini terkenal kezalimannya. Suka meramaikan perjudian dan sabung ayam, melarikan isteri orang dan anak-anak gadis untuk memuaskan hawa nafsunya. Rakyat cemas dan ketakutan, namun tak dapat berbuat apa-apa.
Raja Indragiri waktu itu Raja Hasan bergelar Sultan Hasanuddin Syah (1735 – 1765) yang berkedudukan di Pekan Tua, ada juga yang menyebutnya Kota lama, gusar mendengar mendengar tingkah polah Rajo Dobalang yang zalim itu. Raja Indragiri khawatir, Rajo Dobalang sampai ke Indragiri akan mengganggu ketentraman rakyatnya yang aman dan damai. Untuk mencegahnya, Raja mudik menuju Peranap. Di Peranap menemui Penghulu-penghulu sekitarnya minta dicarikan hulubalang untuk menghentikan ekspansi Rajo Dobalang. Begitu perkasanya, sampai ke Teluk Kuantan, Baserah dan Cerenti, Rajo Dobalang tidak mendapat perlawanan.
Raja Dobalang, dengan leluasa menguasai dan menjarah wilayah itu. Raja Dobalang semakin ganas, bernafsu untuk meneruskan ekspansinya ke Kerajaan Indragiri. Setelah Cerenti, selangkah lagi sampai di Baturijal. Hati penduduk Baturijal pun bongkok penuh kekhawatiran, gegham, takut dan benci luar biasa, bercampur baur terhadap Rajo Dobalang dari Minangkabau yang zalim.
Dalam pencarian hulubalang, penghulu-penghulu itu sampai ke Simpang Kiri, menemukan serpihan-serpihan tarahan kayu. Berarti di situ kehidupan. Akhirnya, penghulu punbertemu tiga beradik yaitu : Tiala dengan saudaranya bernama Sabila Jati serta kemenakannya yang bernama Jo Mahkota. Tiga beradik ini sebenarmya berasal dari Batu Jangko yang disuruh oleh Datuk Kibaya untuk merantau. Misinya untuk n yang banyak mencari wilayah berair yang jernih dan ikan.
Dalam perjalanan melalui Padang Lawas, tiga beradik sampai ke Ibul Jundung, lalu turun ke Pangkalan hingga sampai di pasir Koto Simbung (Siambung). Kemudian Tiga beradik itu berhenti dan mencari damar sambil membuat membangun Koto Simbung. Di Koto Simbung inilah mereka ditemui oleh Penghulu-penghulu sebagai utusan Raja Indragiri Hulubalang.
Penghulu menceritakan maksud Raja Indragiri untuk menghentikan gerakan Rajo Dubalang. Hati nurani Tiga Beradik terusik, terhadap kebathilan Raja Dobalang. Mereka berjanji akan datang menghadap raja tiga hari kemudian, setelah melakukan mufakat terlebih dahulu. Setelah 3 hari, Tiga Beradik memenuhi janjinya menghadap Raja sekaligus menyatakan kesediaannya. Raja merasa puas, langsung menanyakan kapan berangkat. Tiga Beradik pun menjawab : “Menunggu perintah tuanku. Bila cukup syaratnya oleh tuanku, kami Tiga Beradik berangkat”. Sekarang secara giliran Raja minta tunggu 3 hari untuk mengumpulkan para Menteri dan rakyat, berpesta dulu sambil menyiapkan perbekalan.
Ketika Tiga Beradik ditawarkan apa yang diperlukan, mereka menjawab : Nan Tuo mengambil dulu seekor ayam sabung rupa-rupanya betina, bertuah “Cahaya Negeri”.  Dua buah keris bersarung emas, buatan Mojopahit tuahnya, “Senang Hati”. Nan Tengah mengambil pedang Jawi, hulunya bertahta intan yang bertuliskan Muhammad, tuahnya “Bintang Negeri”. Nan Kecil : mengambil lembing bersarung dengan mas suasa serupa itu, tuahnya “Pelepas utang”.
Kemudian Tiga Beradik itupun berangkat dengan perahu, serta tukang kayuhnya sebanyak 12 orang, menemui Rajo Dobalang di Sibuai Tinggi. Setelah bertemu, Tiga Beradik ditantang menyabung ayam di gelanggang oleh Rajo Dobalang. “Apa larangan dan Pantangnya?”, tanya Tiga Beradik. “Pertama bersorak dan bertepuk tangan. Kedua memekik dan mengahntam tanah. Ketiga menyingsing lengan baju. Dan kemempat memutar keris ke depan, “ jawab Rajo Dobalang.
Apabila melakukan semua larangan itu, dianggap kalah. Tiga Beradik bertanya lagi :”Berapa taruhannya ?” Jawab Rajo Dobalang : “Tanah Inuman di sebelah kiri mudik sungai Indragiri, lebar, dan panjangnya sehabis pemandangan di gelanggang di Sibuai Tinggi di Sibuai Tinggi. Kata Rajo Dobalang :”Kapan kita menyambung?” “Terserah tuanku,” jawab Tiga Beradik. Kemudian Rajo Dobalang menetapkan :”Dua hari yang ketiga, sebab kami mengumpulkan rakyat, hari ketiga kita menyabung”.
Pada hari yang telah ditentukan berkumpullah Penghulu-penghulu dan rakyat di tempat gelanggang. Rajo Dobalang dengan congkaknya melepas ayamnya. Sampai dua kali kelepou yang ketiga, ayam Tiga Beradik itu kena dulu, kepaknya sebelah kiri patah. Melihat ayam Tiga Beradik itu kena dulu, sampai tiga kali kelepou, ramailah sorak Rajo Dobalang dengan rakyatnya di tempat gelanggang. Kelepou yang keempat, ayam Rajo Dobalang kena, lehernya hampir putus, hingga tidak kuat lagi melawan.
Melihat ayamnya kalah, Rajo Dobalang marah-marah dan warna mukanya merah padam, sampai memekik, menghantam tanah, menyinsing lengan baju, memutar keris ke depan terus menikam Tiga Beradik sampai dua kali. Berarti sudah melanggar pantangan dan dianggap kalah. Tiga Beradik mengelak sambil berpantun, “Litak nek begalah, cubo-cubo mangaleh. Litak nak mangalah, dicubo mambalaih”. Pertarungan berlanjut. Nan tuo dulu menikam, Raja Dobalang terus tagolek. Disambut adik nan tengah, dicincang terus jatuh ketanah. Disambut yang kecil, ditikam sampai mati.
Melihat sudah tidak bernyawa lagi, kepala Rajo Dobalang di potong oleh adik yang tengah dimasukkan kedalam peti untuk dibawa pulang. Kepala Rajo Dubalang dibawa Tiga Beradik itu turun ke perahu. Sampai di perahu dilihat kembali oleh Tiga Beradik itu, nasib digerakkan Allah. Berani karena benar, takut karena salah. “Maka Lihatlah bagaimana akibat orang-orang dzalim”. (QS. Al-Qashas : 40)
Setelah Rajo Dobalang tewas oleh Tiga Beradik, Raja dan Penghulu-penghulu Kuantan merasa senang dan gembira. Mereka menahan Tiga Beradik untuk merayakan kemenangan dengan berpesta selama 8 hari. Karena terlalu lama, dikabulkan hanya 4 hari saja. Tiga Beradik ingin segera menghadap Raja Inderagiri untuk menyerahkan kepala Rajo Dobalang. Atas jasanya, Tiga Beradik diberi selembar bendera kehormatan dan nama Datuk Mangkuto.
Setelah hilir mengikuti arus sungai Indragiri, sampailah di tepian raja di Pekan Tua. Kepalo Rajo Dubalang di dukung dengan kain belacu putih oleh nan kecil. Sampai di Istana dipersembahkanlah kepala tersebut kepada raja. Bukan main banyak orang melihat di Istana sambil berdecak kagum. Kepala Raja Dobalang berpusing-pusing waktu dilihat raja di Isatana.
Yang dipertuan Besar Indragiri menawarkan kepada Tiga Beradik di depan para Menteri apa yang mereka sukai sebagai balas jasa. “Apakah uang atau emas?”. Mereka sebenarnya ikhlas untuk membantu, tidak mengharapkan balas jasa. Setelah didesak beberapa kali, dijawab oleh Tiga Beradik :”Sesuatu yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan”. “Baiklah,” jawab Raja. Dalam tempo 8 hari raja dan para menteri serta orang-orang tua kampung mengadakan rapat membicarakan perihal permintaan Tiga Beradik itu. Para menteri dan orang-orang tua digerakkan Allah pikirannya, masing-masing sepakat mendapatkan jawabannya; “Kepada Tiga Beradik itu di beri pangkat”.
Dengan upacara kerajaan dan pesta, kepada tuga Beradik diangkat menjadi penghulu Tiga Lorong dan diberikanlah pamngkat : Nan tuo saudarnya yang bernama Sabila Jati, diangkat Dana Lelo, Penghulu Pematang lawan ke Batang Hari, benderanya hitam kurnia Raja Inderagiri. Nan Tengah kemenakannya Jo Mahkota, Penghulu Baturijal Hulu lawan ke Kuantan benderanya merah kurnia Raja Inderagiri dan bendera hitam kunia raja Inderagiri. Nan Kecil anaknya bernama Tiala diangkat Lelo Diraja, Penghulu Baturijal Hilir lawan sungai Inderagiri benderanya putih kunia Raja Inderagiri.

Dalam cerita lain, Tiga beradik diberi gelar Datuk, gelar kebesaran orang melayu, yaitu :
1. Datuk Denang Lelo menjadi Penghulu Pematang.
2. Datuk Jomangkuto Penghulu Baturijal Hulu dan.
3. Datuk Lelo Dirajo Dirajo Penghulu Baturijal Hilir.

Sebagai Penghulu Tiga Lorong, mereka diangkat sebagai anak Mas Raja dan Datuk Kerajaan Inderagiri. Mereka pun bersumpah :“Tiada boleh akal buruk, budi merangkak, menggunting dalam lipatan, memakan darah di dalam, makan sumpah 1000 siang 1000 malam. Ke atas dak berpucuk ke bawah dak berurat. Dikutuk Kitab Al-Qur’an 30 juz.” Di bawah pimpinan Tiga Beradik, Tiga Lorong berkembang menjadi desa yang maju, rakyatnya hidup makmur, tenteram, damai dan sentosa.

STUDI IDENTIFIKASI POTENSI KAWASAN LAUT DI RIAU DAN KEPULAUAN RIAU Bagian I

I. PENDAHULUAN
Luas wilayah lautan atau perairan Propinsi Riau 235.366 Km2 atau 71,33% dari luas total wilayah Propinsi Riau. Bahkan jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983, maka dengan kewenangan atas Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang telah disepakati luas Propinsi Riau bertambah menjadi 379.000 Km2 . Jumlah pulau besar dan kecil 3.214 buah, dengan perairan pantai sepanjang 1.800 mil, hutan bakau (mangrove) seluas 300.000 hektar, dan kawasan pasang surut seluas 3.920.000 hektar.
Dengan pulau-pulau yang tersebar dan luas lautan atau perairan yang besar tersebut, maka Propinsi Riau memiliki sumberdaya alam perikanan melimpah. Potensi penangkapan ikan di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan cukup besar. Potensi sumberdaya alam perikanan ini potensial untuk dikembangkan. Orientasi kebijakan ini sangat tepat, mengingat potensi sumberdaya minyak dan gas serta hutan yang telah digarap selama ini telah menunjukkan gejala penurunan (leveling off) yang sangat signifikan. Oleh karena itu pembangunan sumberdaya pesisir dan lautan diharapkan akan dapat menjadi alternatif dan sumber pertumbuhan baru bagi kesinambungan pembangunan di wilayah Propinsi Riau.
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah teridentifikasinya potensi sumberdaya hayati maupun non hayati dan kendala pemanfaatan sumber daya alam kelautan di wilayah Propinsi Riau, sehingga dapat terwujud pemanfaatan sumber daya alam kelautan yang optimal dan terlestarikan.

II. METODOLOGI
Lokasi studi Identifikasi Potensi Kawasan Pesisir dan Lautan Propinsi Riau terletak di kawasan Pesisir dan Lautan, Propinsi Riau. Daerah studi ini mencakup 9 (sembilan) wilayah kabupaten/kota, yakni Kabupaten Rokan Hilir, Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Karimun, Kota Batam, Kabupaten Kepulauan Riau, dan Kabupaten Natuna.
Pengumpulan data meliputi: pengumpulan data sekunder (pengumpulan peta-peta dan citra landsat, pengumpulan data statistik dan hasil penelitian, data instansi dan dinas pemerintah daerah yang terkait); pengumpulan data primer (komponen fisik kimia, komponen hayati, dan survei sosial). Data berupa data statistik dan pengamatan lapangan dianalisis melalui metode tabulasi dan interpretasinya dilakukan melalui metode deskriptif. Sedangkan pengolahan data berupa informasi peta-peta dianalisis melalui metode overlaping dan deskriptif.

III. POTENSI SUMBERDAYA ALAM WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN
3.1 SUMBERDAYA ALAM HAYATI
3.1.1 Estuaria
Estuaria adalah perairan semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria merupakan tempat bertemunya arus air sungai dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisik lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya. Banyaknya unsur hara di daerah estuaria mengakibatkan tumbuh suburnya tumbuhan, termasuk makrophyta dan phytoplankton. Daerah pesisir biasanya merupakan daerah pemusatan industri, yang limbah buangannya masih mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun, maka informasi mengenai ini sangat penting untuk pengelolaannya. Dari hasil citra satelit terlihat bahwa penyebaran estuaria terdapat dalam areal yang luas di Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan.

3.1.2 Mangrove
Penyebaran mangrove di Provinsi Riau sebagian besar terdapat di Riau daratan, yakni di Kabupaten Indragiri Hilir. Sedangkan di Riau daratan lainnya (sebagian Bengkalis, Pelalawan, dan Rokah Hilir) mangrove hanya terdapat sebagian kecil saja, lainnya merupakan hutan pantai. Pada dasarnya mangrove mempunyai tiga fungsi utama yaitu (1) fisik meliputi menjaga garis pantai agar tetap stabil, mempercepat perluasan lahan, melindungi pantai dan tebing sungai dan mengolah limbah. (2) biologis ekologis meliputi tempat benih ikan, udang dan kerang dan lepas pantai, tempat bersarangnya burung-burung besar, habitat alami bagi banyak biota, nursery ground, feeding ground dan selter area bagi biota perikanan. (3) ekonomi meliputi tambak, tempat pembuatan garam, rekreasi, hasil-hasil kayu dan nonkayu.
Pemanfaatan kayu mangrove di Provinsi Riau secara umum digunakan untuk: (1) kayu bakar, arang dan alkohol. (2) untuk konstruksi rumah, konstruksi berat, pancang geladak, tiang dan galah banguan, material pembuatan kapal, serpihan kayu, pagar dan lain-lain. (3) alat untuk memancing, pelampung dan racun ikan, (4) untuk pertanian dan pakan ternak. (5) peralatan rumah tangga dan mainan, (6) arang, (7) chip wood yaitu serpihan buat bahan kertas (pulp).

3.1.3 Padang Lamun (seagrass beds)
Padang lamun merupakan salah satu ekosistem yang terletak di daerah pesisir atau perairan laut dangkal. Lamun yang hidup merupakan kelompok tumbuhan berbiji tunggal (monokotil) dari kelas angiospermae. Keunikan dari tumbuhan lamun dari tumbuhan laut lainnya adalah adanya perakaran yang ekstensif dan sistem rhizome. Karena tipe perakaran ini menyebabkan daun-daun tumbuhan lamun menjadi lebat, dan ini besar manfaatnya dalam menopang produktivitas ekosistem padang lamun. Disamping itu ada beberapa tumbuhan lamun yang melakukan fiksasi nitrogen ditandai dengan ditemukan mengandung epiphyte (blue-green algae), hal ini memegang peranan penting dalam kesuburan komunitas lamun, sehingga komunitas padang lamun sangat produktif. Padang lamun sangat sedikit berada di Provinsi Riau, tetapi masih dapat dilihat di daerah Riau Kepulauan, khususnya di Barelang (Batam, Rempang, Galang), Kepulauan Riau, dan Natuna.

3.1.4 Terumbu Karang (coral reefs )
Terumbu karang merupakan organisme yang hidip di dasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Penyebaran terumbu karang di Provinsi Riau tidak ditemui di perairan laut Riau daratan, tapi berada di Riau kepulauan yakni sebagian besar di Natuna, kemudian Kepulauan Riau, Barelang, dan Karimun.

Pertumbuhan karang dan penyebaran terumbu karang tergantung pada kondisi lingkungannya. Kondisi ini pada hakekatnya tidak selalu tetap, akan tetapi sering berubah karena adanya gangguan baik karena aktifitas alam maupun aktifitas manusia. Gangguan dapat berupa faktor fisik-kimia dan biologis. Faktor-faktor fisik-kimia yang diketahui dapat mempengaruhi kehidupan dan/atau laju pertumbuhan karang, antara lain adalah cahaya matahari, suhu, salinitas, dan sedimen. Sedangkan faktor biologis biasanya berupa predator atau pemangsanya.

3.1.5 Sumberdaya Perikanan
3.1.5.1 Perikanan Tangkap
Potensi perikanan tangkap (laut) di Propinsi Riau sangat besar. Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Riau (2002) menunjukkan bahwa di Selat Malaka diperkirakan potensi tersedia sebesar 141.546 ton, dengan potensi lestari sebesar 84.928 ton, sedangkan di Laut Cina Selatan potensi tersedia sebesar 602.348 ton, dengan potensi lestari 361.430 ton.

Usaha penangkapan ikan di laut merupakan penyumbang terbesar dari produksi perikanan Riau. Dari total produksi sebesar 308.808,80 ton, sebesar 286.290.40 ton (92,7%) berasal dari penangkapan ikan di laut. Daerah-daerah potensial penghasil ikan tangkap di Riau terdapat di Kabupaten Kepulauan Riau, Natuna, Karimun, Bengkalis, Rokan Hilir, dan Indragiri Hilir.


3.1.5.2 Perikanan Budidaya
Potensi perikanan tambak di Propinsi Riau hingga saat ini belum dikembangkan secara serius. Budidaya yang dikembangkan antara lain rumput laut, kolam, keramba, tambak, Nilai produksi budidaya keramba di Riau mengalami penurunan sebesar dari tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan oleh kurangnya benih ikan dan kegagalan panen. Kegagalan panen ini kemungkinan besar disebabkan oleh perairan lokasi keramba mengalami pencemaran limbah rumah tangga dan pabrik yang ada di sekitar aliran sungai. Jenis ikan yang dominan di budidayakan pada keramba adalah kakap putih (Lates calcariver) di samping kerang darah (Anadara granosa) dan kepiting (Scylla serrata).

3.2 SUMBERDAYA ALAM NON HAYATI
Potensi sumberdaya alam non hayati (baca: pertambangan) di kawasan pesisir dan lautan Riau cukup potensial. Namun sektor ini terhambat oleh beberapa kendala dalam peningkatan nilai produk. Tambang timah di Bintan sudah habis tahun 2002. Tambang granit di Karimun dapat dilakukan selama 15 tahun mendatang dengan tingkat penggalian seperti saat ini. Seperti halnya tambang pasir di Selat Singapura dan sekitar Batam-Kepulauan Bintan, kegiatan penambangan ini pada dasarnya beroperasi dengan nilai yang rendah yang lebih mendukung pembangunan konstruksi di Malaysia dan Singapura daripada memberikan penghasilan bagi wilayah Riau itu sendiri. Batu bara berlimpah di wilayah Riau daratan, namun dengan kualitas yang rendah.

IV PERMASALAHAN PEMBANGUNAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT

Pertambahan jumlah penduduk yang pesat (3,8%) di Propinsi Riau berimplikasi kepada tekanan terhadap daya dukung lingkungan. Meningkatnya kebutuhan akan permukiman, lahan pertanian, perkebunan, perhutanan, dan perikanan telah mendorong pemerintah daerah memberikan ijin pengusahaan dan ekploitasi sumberdaya alam baik di daratan maupun di lautan. Beberapa permasalan yang perlu memperoleh perhatian secara cermat dan mendalam dalam pengelolaan sumberdaya alam kawasan pesisir dan lautan antara lain:

(1) Aspek Penurunan Kualitas Lingkungan
Secara garis besar berbagai permasalahan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir dan lautan Propinsi Riau meliputi: (1) pencemaran, (2) degradasi fisik habitat, (3) over eksploitasi sumberdaya alam, (4) abrasi pantai, dan (5) konversi kawasan lindung (hutan mangrove) menjadi peruntukan pembangunan lainnya.

2) Aspek Sumberdaya Manusia
Permasalahan pembangunan kawasan pesisir dan lautan juga dihantui oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Rata-rata tingkat pendidikan nelayan dan petambak di pesisir timur Riau dan Riau kepulauan adalah tidak tamat sekolah dasar. Rendahnya tingkat pendidikan merupakan kendala pembangunan kawasan pesisir yang akan mengakibatkan keterbatasan dalam proses adopsi teknologi, penerimaan dan penyebaran informasi, kesadaran menjaga kelestarian lingkungan dan kualitas kesehatan, dan kemampuan mengakses permodalan. Faktor budaya tampaknya merupakan alasan yang dapat dikemukakan mengapa masyarakat pesisir pantai Riau umumnya berpendidikan rendah. Masyarakat pesisir pada umumnya cenderung memandang pendidikan bukan merupakan kebutuhan pokok untuk mengubah nasib.

(3) Aspek Penguasaan Teknologi
Sesuai dengan tingkat pendidikannya yang umumnya rendah, maka nelayan dan petambak umumnya juga sangat rendah dalam penguasaan teknologi. Sarana dan peralatan penangkapan ikan yang digunakan oleh para nelayan umumnya masih tradisional. Demikian halnya pada sektor perikanan budidaya. Para petambak dalam mengelola tambaknya juga masih tradisional. Minimnya penguasaan teknologi juga terlihat dari sangat sedikitnya aktivitas pengolahan ikan untuk memberikan nilai tambah pada produk perikanan. Masyarakat nelayan umumnya memasarkan ikan hasil tangkapannya dalam keadaan belum diolah sama sekali, sehingga produk perikanan ini mudah mengalami penurunan mutu (rigor mortis) dan masih sedikitnya variasi produk yang dihasilkan. Hal ini pulalah yang membuat pendapatan nelayan cenderung semakin tidak menentu dan mudah dipermainkan pasar akibat mereka harus segera menjual ikan tangkapannya untuk menghindari kerusakan.

(4) Aspek Sosial
Kehidupan nelayan sangat identik dengan hidup yang keras, kemiskinan, kesengsaraan, taraf pendidikan yang rendah, kualitas kesehatan yang kurang, dan lingkungan hunian yang kumuh. Hal ini juga dialami oleh para nelayan di wilayah Propinsi Riau. Dalam upaya melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut, para nelayan tidak saja harus berhadapan dengan ganasnya alam lautan, melainkan juga sering harus menghadapi konflik dengan kelompok nelayan lain. Bahkan para nelayan juga sering mendapatkan resiko perompakan di tengah laut. Sistem pengaturan zona tangkap sering dilanggar oleh para nelayan, sehingga nelayan dari daerah lain sering melakukan kegiatan penangkapan di luar zona penangkapnnya. Permasalahan sosial akibat zonasi ini sudah mengakibatkan bentokan fisik antar nelayan bahkan sudah terjadi bakar membakar kapal nelayan.

(5) Aspek Permodalan
Rendahnya minat lembaga perbankan untuk menyalurkan kredit usaha di sektor perikanan sering dikeluhkan oleh para nelayan dan masyarakat di kawasan pesisir. Kalangan perbankan senantiasa memandang, bahwa usaha di sektor perikanan dan agrobisnis pada umummnya, cenderung memiliki resiko yang tinggi. Oleh karena itu pihak perbankan selama ini mengambil kebijakan yang konservatif guna menyalurkan dananya pada sektor ini. Tidak heran jika selama ini para nelayan sebagian besar mendapatkan permodalan dari para tengkulak untuk memenuhi kebutuhan modal usaha maupun kebutuhan sehari-harinya. Hal ini pada gilirannya memunculkan patron dan klien yang kurang sehat. Beberapa persoalan dari kondisi ini adalah adanya pengendalian harga ikan oleh para tengkulak, sulitnya inventarisasi data hasil tangkapan, dan sulitnya pembinaan bagi para nelayan.


V. STRATEGI PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT

5.1. STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT
Pengembangan kawasan pesisir dan lautan di Provinsi Riau dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa aspek, antara lain: kondisi tipologi lingkungan ekosistem, geografis, keberadaan potensi sumberdaya yang dimiliki, dan perkembangan kondisi kawasan sekitarnya. Aspek-aspek tersebut harus dapat dirangkai dan dicari titik temunya, sehingga pembangunan kawasan yang akan dikembangkan menjadi tepat fungsi dan tepat sasaran. Dengan memperhatikan aspek-aspek di atas, maka strategi pengembangan kawasan pesisir dan lautan di Provinsi Riau secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kawasan, yakni:

I. KAWASAN I Kawasan Riau Daratan (Indragiri Hilir, Pelalawan, Bengkalis, Dumai, dan Rokan Hilir)
Kawasan ini berada di sekitar Selat Malaka dengan karakteristik yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas di daratan atau daerah atasnya (up land ) baik pengolahan dan pemanfaatan lahan, serta aktivitas perekonomian dan pemukiman. Hal ini ditandai dengan warna perairan yang keruh, terjadinya sedimentasi dan pendangkalan yang besar, penurunan kualitas lingkungan, dan padat tangkap. Kondisi pesisir dan lautan yang ditandai dengan yang telah disebutkan di atas, merupakan gambaran bahwa pengolahan dan pemanfaatan lahan belum dilakukan secara bijak. Pengolahan dan pemanfaatan lahan di Riau seperti aktivitas pengolahan lahan perkebunan, HPH, dan industri pengolahan pada akhirnya tidak hanya mempengaruhi keseimbangan ekosistem di darat, tetapi pada akhirnya juga mempengaruhi keseimbangan ekosistem di pesisir dan lautan.

Strategi yang dibangun dari studi yang dilakukan untuk pembangunan kawasan ini adalah mengarahkan aktivitas penangkapan ke arah budidaya dan mengusahakan adanya industri pengolahan produk perikanan. Strategi yang diterapkan pada kawasan ini secara umum bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemberian alam dan melakukan konservasi lingkungan pesisir dan lautan. Selain itu perlu dilakukan pengawasan kawasan mangrove secara ketat.

II. KAWASAN II Kawasan Riau Kepulauan (Batam, Karimun, dan Kepulauan Riau)
Letak kawasan ini berada pada antara Selat Malaka dan Laut Cina Selatan karakteristik kawasan ini sudah tidak terlalu dipengaruhi oleh aktivitas Riau daratan. Pada kawasan ini ditandi adanya mangrove, padang lamun, terumbu karang yang masih baik, kualitas perairan yang baik, dan masih terdapat spesies-spesies ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Arah pembangunan pada kawasan ini perlu dilakukan kawasan perlindungan pesisir dan laut (marine protect area) yang meliputi kawasan perlindungan mangrove, padang lamun, ikan-ikan karang, dan terumbu karang. Lokasi yang paling memungkinkan dengan kondisi lingkungan yang dimiliki untuk menjadi kawasan perlindungan diantaranya adalah di daerah Batam, Rempang, dan Galang. Pada lokasi tersebut kondisi mangrove, padang lamun, ikan-ikan karang, dan terumbu karang masih tergolong baik.

Kota Batam merupakan daerah paling padat di antara daerah lokasi studi lainnya (286,76 Jiwa/Km2), selain itu perairan Batam juga sangat dekat dengan perairan Karimun yang sangat keruh akibat penambangan pasir yang dikhawatirkan akan menimbas sampai perairan Batam, padatnya lalu-lintas perairan. Hal-hal ini merupakan ancaman terhadap perairan Batam yang dapat dijadikan latar belakang pembentukan kawasan perlindungan (marine protect area) di Barelang.

Pembentukan kawasan perlindungan pesisir dan lautan ini selain untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang dimiliki Riau dan menjaga keseimbangan ekosistem, juga dapat menghasilkan pendapatan yang besar. Konsep yang demikian ini telah banyak dikembangkan di negara-negara maju yang dikenal dengan Conservation Enterprise.

III. KAWASAN III Kawasan Kepulauan Natuna
Kawasan ini berada di Laut Cina Selatan jauh terpisah dari Riau daratan dengan karakteristik yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas cuaca dan iklim di Laut Cina Selatan. Hal ini ditandai dengan gelombang laut yang besar, perairan yang jernih, dan keberadaan ikan-ikan pelagis dengan jumlah besar. Potensi sumberdaya laut khususnya ikan–ikan pelagis pada kawasan ini masih sangat terbuka lebar. Sehingga kawasan ini dapat dijadikan sasaran penangkapan ikan dari jenis-jenis kapal besar (di atas 20 GT) yang mampu melakukan pelayaran jauh dalam waktu yang lama.

Pada Kawasan Kepulauan Natuna selain potensi sumberdaya laut, juga memiliki potensi sumberdaya non hayati seperti halnya cadangan gas dengan jumlah yang tinggi. Cadangan gas di Kepulauan Natuna ini diperkirakan mencapai 33% dari total cadangan gas yang dimiliki Indonesia. Oleh karena itu Natuna harus menyusun rencana pembangunan yang dilandasi oleh perencanaan pembangunan tata ruang, ekonomi, dan sosial untuk menjadikan Natuna sebagai pusat pelayanan industri gas berkualitas tinggi.

Mendongkrak Potensi Pariwisata di Riau

Jakarta - Infrastruktur pariwisata di semua daerah perlu digenjot pembangunannya agar lebih mudah dijangkau, membangun pariwisata daerah akan membawa multi efek yang besar untuk kemajuan daerah di berbagai sektor. Hal tersebut diungkapkan  Ketua DPD RI M. Saleh saat membuka Rapat Kerja Anggota DPD RI Provinsi Riau dengan pemerintah kabupaten dari Provinsi Riau dan kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Pariwisata untuk mendongkrak pembangunan pariwisata di Provinsi Riau yang berlangsung di Gedung DPD RI, Jakarta (15/12).

Saleh berharap pertemuan ini menghasilkan keputusan yang menguntungkan daerah dan membawa percepatan pembangunan di daerah. Dengan keberlangsungan MEA, Indonesia menjadi target market, sehingga seharusnya kita mampu bersaing ketat. "Infrastruktur pariwisata perlu ditingkatkan agar lebih mudah dijangkau, membangun pariwisata akan membawa multi efek yang besar untuk kemajuan daerah di berbagai sektor", terang Saleh.

Selanjutnya Saleh mengatakan bahwa pembangunan pariwisata tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur maka sangat tepat mengundang stakeholder terkait. 

Turut hadir dalam Rapat tersebut anggota DPD RI asal Provinsi Riau Abdul Gafar Usman, Rosti Uli Purba, Maimanah Umar bersama perwakilan Kementrian PUPR, Kementrian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Riau.

Anggota DPD RI dari Provinsi Riau Abdul Gafar Usman mengatakan latar belakang diadakannya rapat koordinasi ini adalah membangun image pariwisata Indonesia. "Riau seperti Indonesia mini, potensi yang perlu dikembangan untuk kepentingan rakyat dan pemerintah sebagai administrator", jelas Gafar.  

Bupati Siak Syamsuar mengungkapkan bahwa untuk mendukung target pariwisata nasional, Provinsi Riau setidaknya memiliki lima agenda atau kalender event tetap tahunan. Hal itu didukung dengan mengandalkan potensi Riau. Adapun kelima event tersebut adalah, pertama adalah event Pacu Jalur Kuansing, Festival Bakudo Bono Pelalawan, Tour de Siak, Pacu Jalur Kuansing, Bakar Tongkang, Gema Muaharam Indragiri Hilir dan Riau Marathon. "Perlu dukungan dari kementrian PUPR untuk mendukung ruas jalan nasional yang menghubungkan antara daerah di provinsi riau", kata Syamsuar. 

Senada dengan pernyataan tersebut Kepala dinas pariwisata Riau Fahmi menyatakan bahwa tahun 2017 direncankan 10 kabupaten kota akan segera dibangun infrastruktur, pihak binamarga juga sudah membuat peta rencana jalur jalan nasional yang menghubungkan setiap kabupaten kota di Riau, sekitar lebih kurang 900km jalan akan terhubung. "Dukungan pembangunan infrastruktur mendesak dan perlu untuk meningkatkan potensi pariwisata di Riau,” tutupnya. (int/mas)

HUJUNG NEGERI SEIYA SEKATA PELALAWAN.

Kecamatan Kuala Kampar, Pulau Mendol (Penyalai)

Menengok Penyalai
Tahukah encik tuan dan puan di mana Penyalai? 
Kalau tuan pernah pergi ke sana tentulah menjawabnya dengan fasih tentang seluk beluk negeri yang saya tanyakan itu. 
Mungkin tentang Pulau Mendul, gobak sagu, kebun kelapa, buah tematu, kue bangkit, negeri berpantai Lumpur terbam, cendol penyalai, joget tanjung selukup, Datuk Temakul dan lain sebagainya.

Tulisan ini tidak hendak menjelaskan tentang negeri di ujung batang Kampar itu dengan lengkap-pepat.
Walaupun Saya bukan asli Penyalai, tapi Saya adalah anak Pelalawan.

Sebagai anak negeri yang iba hati pada tanah air sahabat-sahabat saya, ada sesuatu yang hendak dilakukan walaupun hanya sebait tulisan ungkapan rasa.

Penyalai adalah sebuah kampung-kampung yang identik dengan khazanah melayu.
Bahasa melayu di Penyalai sangat patut dijadikan bahasa standard melayu di Kabupaten Pelalawan.
Karena bahasa melayu penyalai ialah dialek Riau-Johor yang menjadi cikal bakal bahasa indonesia, serupa dengan dialek kepulauan Riau.

Encik tuan Dan puan penasaran dengan dialek melayu Penyalai ?

Inilah contoh dialek Penyalai, Kuala Kampar, Pelalawan.

Saya = saye
Kamu = Mike
Apa = ape
Sana = sane
Cantik = lawa
Paman = Pak cik
Bibi = Mak Cik
Dan banyak lagi...

Contoh ucapan dialek:

•Kamu Hendak Pergi Kemana ?
=Mike nak pegi kemane ? Atau,,  awak nak kamane ?
•Kamu APA kabar ?
=Mike ape kaba ?

Contoh percakapan:

1. Hai Siti, timbal aku kekedai kejap yok. Aku nak beli ikan biles.
(Hai Siti, Temani aku ke warung sebentar yuk. Aku mau beli ikan Teri)

2. Eehh.. aku tengah banyak keje ni, kaghang aje lah ye. Tunggu aku siap cuci pinggan. Aku Pon nak pegi kedai belisampo.
(Eehh.. aku sedang banyak kerja ni, Nanti aja ya. Tunggu aku selesai mencuci piring. Aku juga mau pergi ke warung beli sampo).
Itulah cintoh dialeknya 😊
••••••••••••••••••
Secara geografis, negeri ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu juga dekat dengan negara Singapura. Kini bangunan fisiknya, bila dibandingkan dengan Tanjung Batu, Kundur, Kepulauan Riau saja, negeri ini cukup tertinggal jauh. 
Di Pulau Mendul ini atau daerah seberangnya yang bernama Lintas Bono pun belum dimasuki kendraan roda empat, pengerasan jalan, jalan aspal belum ada hotel berbintang, Bank, ATM, dan banyak lagi yang belum tersedia. 

Jika orang sini memerlukan semua fasilitas itu, mereka terpaksa berangkat naik
speedboat ke Tanjung Batu (Karimau Kepri) yang hanya makan waktu sekitar duapuluh lima menit saja.

Apabila sahabat Kuala Kampar ingin mengurus SKCK atau SIM harus menmpuh jarak 1 Hari menuju ibukota Kabupaten yaitu PANGKALAN kerinci.

Hal ini juga dilakukan oleh sebagian eksekutor dan legislator Pelalawan bila mereka bertugas di sini. Mereka bermalam di Tanjung Batu Kundur karena penginapan sini baru setakat kelas melati.

Oleh karena letaknya berada di sekitaran wilayah perairan Selat Melaka, tentulah negeri ini sesekali mendapat jelingan dan tumpuan mata dari negeri dan negara tetangga tersebut. 
Sebagai bangsa yang memiliki sejarah gemilang di masa lampau, sudah sepatutnya Kabupaten Pelalawan ingin dipandang gagah dan sasa di mata masyarakat sekitar Selat Melaka karena bagaimana pun, Kuala Kampar merupakan pintu gerbang Pelalawan dari mata dunia (Selat Melaka).
Selain itu lagi, dari segi sejarah, kalau tidak menyimpan sesuatu yang unik dan misteri, kenapa pula Sultan Mahmud Syah dari tanah Semenanjung Malaya memilih jalur ini untuk bertapak di Pekantua?

Kenapa tidak memasuki kuala Indragiri atau Sungai Jantan, Siak, lalu mencari negeri untuk membangun istana sayap?

Melihat kondisi kini, pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur mesti dilengkapi lagi. Keinginan Pemerintah Kabupaten Pelalawan untuk menjadikan Kuala Kampar sebagai kawasan zona ekonomi ekslusiv sungguh tepat, patut didukung dan digelorakan oleh semua kalangan.

Selain itu, potensi pariwisatanya pun perlu dikembangkan dan dibuat peta kerja secepatnya apalagi kawasan bono tidak begitu jauh dari sini.
Jika turis dari mancanegara hendak singgah di Teluk Meranti tentulah lebih nyaman dan nikmat jika masuk dari jalur sini karena para turis tentulah ingin juga duduk semalam di Singapura, di Malaka di Batam dan Kundur.
Pun, membangun lembaga pendidikan yang lengkap dan sempurna seperti di Pangkalan Kerinci perlu digiatkan lagi di sini. Lembaga pendidikan agama Islam lebih harus diperhatikan karena,
pertama , jika turis mengunjungi kawasan wisata bono tentulah bersentuhan langsung dengan masyarakat Kuala Kampar. 

Galibnya, kedatangan para turis asing sedikit banyaknya akan mempengaruhi prilaku masyarakat temapatan. Untuk itu, generasi muda perlu pondasi agama (akhlak) yang baik dan kuat.
Kedua , pemelihara kesantunan dan keindahan nilai Melayu mutlak disampul oleh agama Islam. Makanya, memajukan lembaga pendidikan agama di daerah ini tidak hanya dibebankan kepada Kementerian Agama (Kemenag) saja tetapi juga kepada Pemerintah Daerah. MTS, MA, SD, SMP , SMA Dan SMK. Kuala Kampar perlu mendapat perhatian khusus dari Pemda Pelalawan.
Membangun dan memelihara kekayaan khazanah Melayu di Penyalai atau Kecamatan Kuala Kampar merupakan sesuatu yang mustahak segera dilakukan sesegera mungkin oleh semua sektor di Pelalawan karena negeri ini merupakan warisan Tuhan yang amat berharga demi kejayaan Melayu dan kabupaten Pelalawan di bentangan esok yang kian panjang.

Pengen tau kondisi Desa Simpang Beringin Kecamatan Bandar Sei Kijang Kabupaten Pelalawan, nih google maps menydiakannya secara online

Selengkpanya di : http://id.mapaworld.com/peta/jl-kas-desa-simpang-beringin-bandar-seikijang-kabupaten-pelalawan-riau-indonesia.html

welcome to pelalawan, Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Pelalawan bingung apa aja pertanian di kabupaten pelalawan, sangat mudah klik di sig.distan.pelalawankab.go.id ini merupakan layanan peta digital kami utk mencari informasi pertanian antara lain sawah,komoditi,produk dll

Peta pengembangan buah- buahan,sayuran,dan tanaman manggis kabupaten pelalawan, bisa dilihat di sig.distan.pelalawankab.go.id

Comments

Popular posts from this blog

ut pelalawan

ut pelalawan

Ujian mahasiswa UT kab pelalawan.H2 hari minggu, aturan di perketat.guna mencapai lulusan berkualitas dan bermutu tinggi.semangat buat adek2 mahasiswa UT.taati aturan dan smga mndapat nilai yg memuaskan.

Bersama dosen pembimbing ahli & pembimbing 1 jalan2 di tambang terbuka grasberg,,,,, PT. Freeport Indonesia  Universitas Terbuka Pelalawan Upbjj Universitas Terbuka Denpasar Upbjj Universitas Terbuka Padang Upbjjut Jayapura Upbjj-ut Layanan Luar Negeri Upbjj-ut Palangka Raya

PKL.KERINCI, riaueditor.com  Syahbanides atau sehari-harinya dipanggil Syahban, seorang mahasiswa Universitas Terbuka (UT) yang juga guru honorer di SD 009 Pangkalan Kerinci menyebutkan bahwa dirinya telah melayangkan pengaduan kepada Kejaksaan …

PKL.KERINCI, riaueditor.com - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pelalawan MD. Rizal, S.Pd.M.Pd menilai permasalahan mahasiswa UT Syahbanides dengan koordinator Kelompok Belajar Universitas Terbuka (Pokjar) UT tidak harus dibesar-besarkan, karena …

Nee ut

kebudayaan kabupaten pelalawan

kebudayaan kabupaten pelalawan berdasarkan SEJARAH PERADABAN TANAH KAMPAR [ MENGUAK MISTERI LINTAS ZAMAN ]
BAB I
PENDAHULUAN
Kampar merupakan nama salah satu Daerah kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia.terletak antara 1°00’40” Lintang Utara sampai 0°27’00” Lintang Selatan dan 100°28’30” – 101°14’30” Bujur Timur.Kabupaten Kampar saat ini dilalui oleh dua buah sungai besar dan beberapa sungai kecil, di antaranya Sungai Kampar  dan Sungai Siak bagian hulu.
Sungai Kampar melewati daerah kabupaten kampar panjangnya  ± 413,5 km ,sungai kampar dibagian hulu bercabang dua,dibagian aliran Sungai Kampar Kanan menelusuri kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat sekarang dan kabupaten Kampar Provinsi Riau, sedangkan aliran Sungai Kampar Kiri melewati Sijunjung diProvinsi Sumatera barat sekarang, kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau dan kabupaten Kampar Provinsi Riau, kemudian kedua aliran sungai kampar kanan dan sungai kampar kiri berjumpa di Langgam kabupaten Pelalawan Provinsi Ria…

sejarah kabupaten pelalawan

sejarah kabupaten pelalawan. Tak kenal maka tak sayang
Tak sayang maka tak cinta
Inilah negeri kami pelalawan
Negeri melayu terbilang dan termasyur,,,
Disinilah kerajaan pekantuo kampar bermula yg berubah nama menjadi kerajaan pelalawan (kabupaten pelalawan)

"SUKU MELAYU PETALANGAN, KAB PELALAWAN, RIAU" 🇮🇩

Suku Petalangan hidup di Kabupaten Pelalawan , provinsi Riau . Desa-desa pemukiman orang Petalangan terletak sekitar 60-95 kilometer dari kota Pekanbaru . Kebanyakan orang Petalangan mencari nafkah dari hutan, Karet, sawit dan sebagai nelayan.
Istilah Petalangan berasal dari kata talang , yang merupakan sejenis bambu . Suku ini juga menyebut diri mereka sebagai Uwang Da'at (Orang darat)

Sejarah:
Menurut tombo Orang Petalangan datang dari
Johor menggunakan perahu, dan membuka hutan di pemukiman mereka sekarang ini. Mereka kemudian menjadi kawula Kerajaan Kampar, dan kemudian Pelalawan .

Di bawah pemerintahan Kesultanan Pelalawan mereka mendapat pengakuan hak atas wila…

alamat j&t pelalawan

alamat j&t pelalawan

Jual Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Murah Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Agen Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Supplier Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Distributor Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Toko Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||Murah Agen Pil Virgin Asli original Murah 08568181663 Promo||


PIL VIRGIN  – Siapa sih yang tidak ingin membahagiakan suami? Para wanita pasti ingin suaminya mesra dan nempel terus. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memanjakan suami saat bercinta, memiliki vagina yang rapat dan kencang seperti perawan bagaikan berkah untuk membahagiakan suami. Masalah Miss  V longgar dan kendur bisa memicu munculnya problem rumah tangga. Hal ini bisa terjadi pada beberapa individu. Pasca melahirkan, faktor usia, dan terlalu sering berhubungan seksual adalah faktor utama yang bisa melonggarkan Miss  V wanita. Seorang wanita dengan Mis…

bkd pelalawan 2018

Untuk mengetahui jadwal ujian cpns dari bkd pelalawan 2018 silahkan klik link berikut.
https://bkd.pelalawankab.go.id/berita-294-jadwal-seleksi-kompetensi-dasar-skd-penerimaan-calon-pns-kabupaten-pelalawan-tahun--2018.html
Semoga membantu.

Kamis (6/9/2018) malam seluruh Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) menggelar rapat di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB)

Pertemuan ini adalah untuk menetapkan formasi CPNS bagi daerah. Termasuk yang ikut dalam rapat tersebut Kepala Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau, Ikhwan Ridwan

Dikutip dari Tribunpekanbaru.com, formasi secara garis besarnya sudah ditetapkan 238.015 formasi dimana untuk daerah 186.744 untuk 525 instansi dan pusat 51.271 untuk 76 instansi

Berikut ini Formasi CPNS yang diajukan Riau ke pusat untuk formasi yang diminta Menpan RB :

- Provinsi 375
- Pekanbaru 300
- Dumai 170
- Bengkalis 300
- Siak 250
- Kuansing 300
- Rohul 325
- Rohil 331
- Inhil 350
- Meranti 248
- Kampar 210
- Inhu …

Stand April di Pelalawan Expo 2018

Kami kembali ikut meramaikan Pelalawan Expo 2018. Ayo kunjungi stand APRIL di Blok 1 No.1 mulai dari tanggal 6-12 Oktober 2018. Sahabat bisa melihat bagaimana proses produksi dari kayu menjadi kertas atau dari kayu menjadi serat kain. Sentuh teksturnya, raba, dan lihat dari dekat.

Sahabat juga bisa ikut belajar membatik lho, juga bisa mencicipi produk-produk mitra binaan Community Development RAPP, dan jangan lupa sahabat berfoto selfie/wefie saat di booth APRIL ya, lalu post ke instagram, follow dan  tag @sahabatRAPP jangan lupa sertakan hashtag #APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP hadiah menarik sudah kami siapkan untuk sahabat dengan foto terbaik 😉.

#APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP #PelalawanExpo2018 #Event #Paperone #GoodforCommunity #GoodforClimate #GoodforCountry #Paper #Industry #Sustainable #Concession #CommunityDevelopment #WomenEmpowerment #BatikBono #business #Riau #viscose #acacia #rayon #lifeatAPRIL #RAPPuntukIndonesia