Skip to main content

sejarah kabupaten pelalawan

sejarah kabupaten pelalawan. Tak kenal maka tak sayang
Tak sayang maka tak cinta
Inilah negeri kami pelalawan
Negeri melayu terbilang dan termasyur,,,
Disinilah kerajaan pekantuo kampar bermula yg berubah nama menjadi kerajaan pelalawan (kabupaten pelalawan)

"SUKU MELAYU PETALANGAN, KAB PELALAWAN, RIAU" 🇮🇩

Suku Petalangan hidup di Kabupaten Pelalawan , provinsi Riau . Desa-desa pemukiman orang Petalangan terletak sekitar 60-95 kilometer dari kota Pekanbaru . Kebanyakan orang Petalangan mencari nafkah dari hutan, Karet, sawit dan sebagai nelayan.
Istilah Petalangan berasal dari kata talang , yang merupakan sejenis bambu . Suku ini juga menyebut diri mereka sebagai Uwang Da'at (Orang darat)

Sejarah:
Menurut tombo Orang Petalangan datang dari
Johor menggunakan perahu, dan membuka hutan di pemukiman mereka sekarang ini. Mereka kemudian menjadi kawula Kerajaan Kampar, dan kemudian Pelalawan .

Di bawah pemerintahan Kesultanan Pelalawan mereka mendapat pengakuan hak atas wilayah hutan mereka ( Hutan Tanah Perbatinan Kurang Satu Tiga Puluh ), yang dipimpin oleh kepala adat yang dikenal dengan sebutan batin .

Orang Petalangan menjual hasil hutan dan jasa kepada Kesultanan Pelalawan.
Dengan kemerdekaan Indonesia kehidupan orang Petalangan mengalami perubahan. Kesultanan Pelalawan digabungkan ke dalam Republik Indonesia, dan pemerintahan tradisional oleh batin digantikan oleh kepala desa yang diangkat oleh pemerintah Republik.

Sistem adat:
Adat Petalangan merupakan paduan dari sistem yang serupa dengan melayu Kampar, dan minangkabau matrilineal (Suku diperoleh dari ibu) dan sistem melayu yang patriarkis .

Meskipun mayoritas masyarakat Petalangan menyatakan diri mereka berasal dari Semenanjung Malaya , sebagian mengaku berasal dari Kampar, & Minangkabau.
Berdasarkan sistem matrilineal masyarakat Petalangan dibagi atas beberapa suku (klan/Marga), seperti: Sengerih, Lubuk, Pelabi, Medang, Piliang, Melayu, Penyabungan dan Pitopang.
Harta diwariskan dari ibu ke anak perempuan.
Meskipun begitu anggota keluarga laki-laki mengendalikan praktik adat.

Kepemimpinan:
Pemimpin suku adalah ninik-mamak , yang dipilih melalui musyawarah anggota keluarga laki-laki. Ninik-mamak ini berperan menyelesaikan sengketa dalam sebuah suku , dan karena itu diharapkan memiliki pengetahuan mendalam tentang adat-istiadat. Bila ada konflik antara orang-orang dari dua
suku atau lebih ninik-mamak dari masing-masing klan akan bertemu dan berunding untuk memecahkan masalah.
Batin pada awalnya berperan sebagai pemimpin politik, yang mengepalai sebuah desa ( pebatinan ).
Kepala semua batin orang Petalangan disebut sebagai monti ajo (menteri raja), gelar yang berasal dari kedudukannya di
Kesultanan Pelalawan . Monti ojo dipilih dari dan oleh para batin. Dalam sistem administrasi Indonesia pemimpin adalah kepala desa , dan
batin hanyalah jabatan simbolis.

Perkawinan:
Dalam adat suku Petalangan perkawinan antara anggota satu klan matrilineal ( suku ) dilarang. Perkawinan yang dianjurkan adalah yang dinamakan sebagai pulang ke bako . Dalam
pulang ke bako seorang lelaki menikahi anak perempuan paman dari garis ibu. Lelaki yang sudah menikah tinggal di rumah dekat orang tua istrinya.
Meskipun perkawinan antara anggota satu klan dilarang, orang Petalangan lebih menyukai perkawinan dengan orang sekampung ( endogami ).

Ninik-mamak memegang peranan penting dalam merencanakan perkawinan. Ninik-mamak pihak laki-laki mengajukan lamaran kepada keluarga perempuan, yang kemudian diikuti dengan perundingan dengan ninik-mamak pihak perempuan. Mereka kemudian memutuskan waktu dan tempat perayaan perkawinan.

Agama:
Suku Petalangan menganut agama Islam . Namun mereka juga memiliki sistem kepercayaan sendiri, yang menganggap kehadiran makhluk halus pada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Namun kepercayaan ini dianggap tidak bertentangan dengan Islam.

Bahasa dan Sastra:
Orang Petalangan menggunakan dialek Melayu Kampe.
Bahasa Indonesia kadang-kadang digunakan oleh kepala kampung atau untuk berkomunikasi dengan orang luar.
Bahasa dan dialek-dialek lain yang berdekatan yang memengaruhi adalah : Pelalawan, V Koto Kampar, Kuantan dan Minangkabau.

Bentuk-bentuk sastra yang dikenal orang Petalangan antara lain pidato adat (cakap adat ),
pantun , dan nyanyi panjang , mantera ( monto),
belian , dan menumbai.

Perseteruan Raja Siak dan Kerajaan Kampar 


SIAK adalah sebuah kerajaan  besar  yang memiliki sejarah panjang di Riau. Sejak abad 15, beberapa sultan silih berganti memerintah hingga Sultan terakhir, Syarif Kasim II (berakhir 1946). Hampir semua Sultan Siak memiliki catatan tersendiri. Ada catatan dengan pena putih, merah dan hitam, tentunya.

Kerajaan Siak merupakan Kerajaan Melayu  yang kini terletak di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Sejak didirikan abad 15, kerajaan ini sudah bercorak Islam. Menurut berita Tome Pires, Kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan yang kuat, makmur dan sejahtera. Karena di wilayah Siak dihasilkan padi, madu, timah, karet dan emas. Pada awalnya, kerajaan Siak di bawah kekuasaan Kerajaan Malaka dan Johor. Barulah kemudian membesar, mandiri dan lepas dari kekuasaan Malaka.

Kebesaran Kerajaan Siak, antara lain di masa pemerintahan Sultan Said Ali (1784-1811). Raja bijak ini, sangat dicintai rakyatnya. Dia banyak berjasa bagi Siak, karena  berhasil memakmurkan kerajaan dan ia dikenal sebagai seorang Sultan yang jujur. Bahkan daerah-daerah yang pada masa Raja Kecik melepaskan diri dari Kerajaan Siak, berhasil dia kuasai kembali. Bahkan Siak memiliki armada perang kuat yang mampu menaklukan  wilayah jajahan baru.

Said Ali mundur sebagai Sultan pada tahun 1811 dan kemudian pemerintahannya diganti oleh putranya, Tengku Ibrahim. Di bawah pemerintahan Tengku Ibrahim, Kerajaan Siak mengalami kemunduran sehingga banyak orang yang pindah ke Bintan, Lingga, Tambelan, Trenggano dan Pontianak. Ditambah lagi dengan adanya perjanjian dengan VOC tahun 1822 di Bukit Batu yang isinya melarang Siak bekerjasama dengan negara lain, kecuali dengan Kerajaan Belanda.

Raja pertama Kerajaan Siak adalah Sultan Abdullah Khoja Ahmad Syah. Saat itu Kerajaan Siak masih berada di bawah kekuasaan Malaka. Raja Abdullah adalah raja yang ditunjuk oleh Sultan Johor untuk memimpin dan memerintah Kerajaan Siak. Sedang Raja Siak kedua adalah Hasan Putra Ali Jalla Abdul Jalil. Pada masa pemerintahannya, Belanda berhasil menguasai Malaka. Dengan demikian, Kerajaan Siak terikat politik ekonomi perdagangan dengan VOC. Semua timah yang dihasilkan Siak harus dijual ke Kerajaan Belanda.

Sultan yang ketiga adalah Abdul Jalil Rahmat Syah (1723-1748) atau disebut juga Raja Kecik. Raja Kecik adalah anak dari Sultan Johor bergelar Sultan Mahmud Syah II. Raja Kecik yang pertama mendirikan Kerajaan Siak yang berdaulat. Tidak lagi di bawah kekuasaan Malaka. Dia juga meluaskan daerah kekuasaannya dari pusat kerajaannya di Buantan.

DI PANTAI Barat Kerajaan Siak, juga pada abad 15,  berdiri pula sebuah Kerajaan Islam  bernama Kampar. Kerajaan Kampar juga berada di bawah Kerajaan Malaka, sama halnya dengan Kerajaan Siak. Tapi jika Siak awalnya  tunduk kepada Malaka, Kampar justru  selalu mengadakan perlawanan. Pada pemerintahan Sultan Kampar, Abdullah,  Kampar tidak mau menghadap Sultan Mahmud Syah I di Bintan selaku pemegang kekuasaan Kemaharajaan Melayu Malaka.

Karena pembangkangan Kampar ini,  Sultan Mahmud Syah I, mengirimkan pasukannya untuk melumatkan Kampar sampai ke akar akarnya. Tapi, Sultan Abdullah yang terdesak, membuat perjanjian dengan Kerajaan Portugis. Tentu saja bantuan Portugis membuat Kampar selamat dan tak jadi hancur atau dikuasai Malaka.

Dalam sejarah Melayu tercatat, awalnya Kerajaan Kampar yang beragama Hindu (1380-1505)  ditaklukkan oleh Malaka di bawah pimpinan Tun Mutahir. Ketika itu letak Kampar sangat strategis, karena merupakan jalur lalu lintas pengiriman emas dan lada dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau. Sejarah juga mencatat, setelah Kampar takluk, Sultan Munawarsyah (Kakak Sultan Malaka, Mahmud Syah) diangkat menjadi Raja Kampar pertama tahun 1505 M. Ketika Munawarsyah meninggal dunia, digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Abdullah. Pada masa Sultan Abdullah inilah Kerajaan Kampar membangkang kepada Kerajaan Malaka.

Sebenarnya, Sultan Abdullah  adalah menantu Sultan Mahmudsyah. Tapi walau dia seorang menantu, Abdullah  tidak pernah setia dengan mertuanya yang adalah Raja Malaka. Dan, ketika Portugis menyerang dan menguasai Melaka pada tahun 1511 M,  Sultan Abdullah bergabung dengan Portugis. Makanya, saat Maharaja Melayu menyerang Kampar, Sultan Abdullah diselamatkan Kapten Armada Portugis, Jorge Bortelho dan diboyong   ke Malaka. Di Malaka, Abdullah diberi kepercayaan sebagai  bendahara orang-orang asing sekutu Portugis.

Atas sikap Sultan Abdullah ini, tentu saja Sultan Mahmudsyah yang sudah lari ke Bintan, tidak senang.  Mahmudsyah kemudian membocorkan  kabar bahwa Sultan Abdullah secara rahasia mempersiapkan pemberontakan terhadap Portugis. Mendengar berita ini,  pihak Kerajaan Portugis menangkap Abdullah. Diapun dihukum gantung di Malaka. 

‌Menurut sejarah Kerajaan Kampar (terbitan Pemkab Kampar), Portugis yang  membantu Sultan Abdullah,  kemudian melakukan perundingan dengan Kemaharajaan Melayu.  Mereka mengirimkan utusan ke Kemaharajaan Melayu di bawah pimpinan Sultan Abdul Jalil Syah I dan memohon agar di Kampar ditempatkan seorang  raja baru. Permohonan itu dipenuhi, maka jadilah Raja Abdurrahman bergelar Maharaja Dinda I, menjadi raja yang berkedudukan di Pekantua.  Setelah mangkat, Maharaja Dinda digantikan oleh puteranya Maharaja Lela I, yang bergelar Maharaja Lela Utama (1630-1650 M). Kemudian dia digantikan oleh puteranya Maharaja Lela Bangsawan (1650-1675 M). Selanjutnya berturut-turut yang  menjadi raja adalah Maharaja Lela Utama (1675-1686 M), Maharaja Wangsa Jaya (1686-1691 M), Maharaja Muda Lela (1691-1720 M), yang akhirnya sampai ke  Maharaja Dinda II (1720-1750 M).

Pada masa maharaja Dinda II inilah, tepatnya pada tahun 1725 M, terjadi pemidahan pusat kerajaan Kampar dari Pekantua ke Sungai Rasau, Pelalawan, salah satu anak sungai Kampar. Nama Kerajaan Kampar pun diganti menjadi Kerajaan Pelalawan.

Keberadaan Kerajaan Pelalawan ini, tentu saja mengusik kebesaran Kerajaan Siak. Karenanya, melalui beberapa kali peperangan besar,  Kerajaan Pelalawan yang telah melepaskan diri dari ikatan kerajaan Johor, diserang oleh Kerajaan Siak pada masa Sultan Syarif Ali (1784-1811 M). Serangan yang dipimpin Said Abdurrahman, adik Sultan Syarif Ali, membuat Pelalawan tunduk  kepada Siak. Pelalawan kemudian menjadi wilayah kekuasaan Siak dan Raja  Pelalawan pun, diangkat dari keturunan Sultan Siak.

Begitulah! Perputaran waktu, memang melahirkan banyak sejarah di negeri ini. Sejarah mencatat, bagaimana Siak yang awalnya sama besar dan sama kuat dengan Kampar, akhirnya menjadi besar dan bisa menundukkan Kampar (Pelalawan). Siak jugalah satu-satunya kerajaan yang tidak bisa ditundukkan kerajaan lain di tanah air. Bahkan Siak bertahan sampai akhirnya menyerahkan kekuasaan pada Pemerintah Indonesia dengan segala harta kekayaan yang dimiliki, setelah Indonesia merdeka.

Sementara di Kerajaan Kampar, meski secara resmi dipindahkan ke Pelalawan dan bertukar nama menjadi Kerajaan Pelalawan, sisa-sisa keluarga  Kerajaan Kampar dari puak yang bertahan di kerajaan awal,  banyak yang tidak menerima kenyataan itu. Menurut Budayawan dan Sejarahwan Riau, Dr  Tennas Effendi, meski ibukota dan keluarga  kerajaan pindah ke Sungai Rasau Pelalawan, sebagian Datuk dan panglima perang Kerajaan Kampar, memilih tidak bergabung ke Pelalawan. Mereka bertahan di tempat awal dan secara separatis melakukan gerakan bawah tanah. Mereka menunjukkan perlawanan terhadap Kerajaan Siak dan Raja Pelalawan yang sudah dikuasai oleh keturunan Raja Siak.

Sementara sejumlah  penghulu adat, ninik mamak dan sebagian rakyat Kampar yang tidak senang  Kerajaan Pelalawan tunduk kepada Siak,  menyatakan diri tidak akan bergabung ke kerajaan manapun. Karena itu pula,  sebagian  masyarakat Kampar melakukan ekspansi ke beberapa wilayah ujung Semenanjung,  Pagaruyung, bahkan sampai ke Patani, Thailand Selatan.

Sesungguhnya, Kerajaan Siak dan Kerajaan Kampar adalah dua Kerajaan  besar yang ada di Riau zaman lalu. Selain dua kerajaan ini, ada lagi sebuah kerajaan besar yang lebih  tua, bernama Kerajaan Indragiri yang berpusat  di Jahpura, Rengat,  Indragiri Hulu. Namun, Kerajaan Indragiri tidak pernah bersentuhan langsung atau berperang seperti layaknya  Kerajaan Siak dan Kampar. Paling kalau ada kesamaan adalah, ketiga kerajaan  ini  bercorak Islam, karena dikuasai Kerajaan Malaka yang lebih dulu  menganut dan memberlakukan syariat agama Islam.

Pada awalnya,  berdasarkan berita Tome Pires, Kerajaan Kampar, Siak dan Indragiri, senantiasa melakukan perdagangan dengan Malaka. Tapi  belakangan, ketiganya memberikan upeti kepada Kerajaan Malaka. Ketiga kerajaan di pesisir Sumatra Timur ini dikuasai Kerajaan Malaka, pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1477) sampai pada masa pemerintahan putranya, Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah hingga wafat tahun 1488.

MEMBOLAK-balik  sejarah masa lalu Siak dan Kampar  itu, di masa kekinian, ada peristiwa besar yang cukup menarik di Riau. Peristiwa yang akan menentukan nasib Riau lima tahun ke depan, yakni Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri)  Priode 2019-2024. Dalam helat ini, maju empat orang putra terbaik Riau untuk menjadi orang nomor satu masing masing, Firdaus, Syamsuar, Andi Rahman dan Lukman Edy.

Menjadi menarik, karena di antara keempat calon itu ada dua nama yang diperkirakan akan bersaing keras menjadi Gubernur Riau. Mereka adalah Firdaus dan Syamsuar. Bukan ingin mengecilkan nama Andi Rahman dan Lukman Edy, tapi dari sisi sejarah, persaingan antara Kampar dan Siak, memang selalu terjadi dan sepertinya terus berulang ulang, entah sampai kapan?

Firdaus adalah putra Kampar, generasi ke sembilan  mantan "Penguasa Kampar" di masa lalu. Dia lahir di Muarauwai, 2 Mei 1960. Ayahnya adalah seorang Datuk, seorang Ninik Mamak, seorang Penghulu Kampar yang bernama Datuk Muhammad Bagindo Pado. Dari sejarah panjang keluarga Firdaus, ditemukan bahwa aliran darahnya adalah turunan seorang cerdik cendekia  Kampar masa lalu. Karena bakat kepemimpinannya, dia dipilih rakyat Pekanbaru menjadi Walikota dua priode.

Sedang Syamsuar yang lahir 1 Juni 1954, mewakili  Negeri Istana Matahari Timur, Siak. Meski bukan keturunan raja raja Siak atau keturunan cerdik cendekia Siak, tapi Syamsuar menempatkan diri sebagai wakil negeri Yang Dipertuan Riau. Negeri yang berkuasa lebih dari sembilan generasi. Negeri yang pernah menaklukkan Kampar 200-an tahun yang lalu. Karena itu, Syamsuar juga dipilih rakyat Siak, dua kali berturut-turut menjadi Bupati Siak.

Sungguh, ini pertarungan yang menarik. Apakah rakyat Riau akan memilih Firdaus atau Syamsuar. "Perebutan Kekuasaan"  yang penuh dengan bunga cerita masa lalu. Karena hingga kini, semua orang tahu, semua masyarakat Kampar dan Siak tahu, bahwa mereka memiliki sejarah yang sangat panjang. Sejarah yang tidak mungkin dilupakan begitu saja. Yang menyatukan mereka saat ini dan masa lalu, hanyalah karena mereka sama sama memeluk agama Islam.

Senentara dua calon gubernur lain, Andi Rahman dan Lukman Edi, sebenarnya juga memiliki peluang menjadi orang nomor satu di Riau. Lukman bisa juga disebut mewakili Kerajaan Indragiri. Sedangkan Andi Rahman, bisa saja diibaratkan mewakili Kerajaan Pagaruyung, karena berasal dari Pangkalan, Limapuluh Kota, Payakumbuh. Hanya kepiawaian, keberuntungan dan garis tangan sajalah yang membuat mereka bisa menjadi Gubernur Riau.

Gelombang dukungan kepada empat putra terbaik Riau itu, memang bervariasi menurut keinginan rakyat, menurut pendekatan yang mereka lakukan. Tapi sejarah selalu terulang. Sejarah sering terjadi berulang ulang. Apakah sejarah Kampar dan Siak masa lalu akan terulang kembali? Sejarah kebesaran Siak dan Sejarah pemimpin revolusioner yang lahir di Kampar?

KERAJAAN PELALAWAN  sebuah kerajaan melayu di tepian sungai kampar wilayahnya sebahagian Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau sekarang sebagai lanjutan kerajaan kerajaan yang ada sebelumnya.Sultan pertama kerajaan ini Assaydis Syarief Abdurrahman bin Sayyed Osman Syahabuddin mempunyai hubungan persaudaraan dengan Sultan Siak yang menunjuknya menjadi sultan di Pelalawan.Sultan Abdurrahman memerintah 1798-1822 M ada belasan sultan yang memerintah kerajaan ini sampai sultan terakhir Assyaidis Syarief Harun bin Assyaidis Syarief Hasyim yang memerintah 1941-1946 M selanjutnya menyerahkan kekuasaan dan wilayahnya kepada Pemerintah Republik Indonesia.berat memang dari seorang raja berkuasa menjadi rakyat jelata.tapi itulah tekad dan semangat beliau untuk kemerdekaan bangsanya Banyak peninggalan dan situs sejarah dari kerajaan ini yang masih terpelihara dengan baik yang dapat kita lihat di Istana Sayap di bekas ibu kerajaan Pelalawan.desa Pelalawan Kecamatan Pelalawan Kabupaten Pelalawan Riau



Comments

Popular posts from this blog

kebudayaan kabupaten pelalawan

kebudayaan kabupaten pelalawan berdasarkan SEJARAH PERADABAN TANAH KAMPAR [ MENGUAK MISTERI LINTAS ZAMAN ]
BAB I
PENDAHULUAN
Kampar merupakan nama salah satu Daerah kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia.terletak antara 1°00’40” Lintang Utara sampai 0°27’00” Lintang Selatan dan 100°28’30” – 101°14’30” Bujur Timur.Kabupaten Kampar saat ini dilalui oleh dua buah sungai besar dan beberapa sungai kecil, di antaranya Sungai Kampar  dan Sungai Siak bagian hulu.
Sungai Kampar melewati daerah kabupaten kampar panjangnya  ± 413,5 km ,sungai kampar dibagian hulu bercabang dua,dibagian aliran Sungai Kampar Kanan menelusuri kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat sekarang dan kabupaten Kampar Provinsi Riau, sedangkan aliran Sungai Kampar Kiri melewati Sijunjung diProvinsi Sumatera barat sekarang, kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau dan kabupaten Kampar Provinsi Riau, kemudian kedua aliran sungai kampar kanan dan sungai kampar kiri berjumpa di Langgam kabupaten Pelalawan Provinsi Ria…

ut pelalawan

ut pelalawan

Ujian mahasiswa UT kab pelalawan.H2 hari minggu, aturan di perketat.guna mencapai lulusan berkualitas dan bermutu tinggi.semangat buat adek2 mahasiswa UT.taati aturan dan smga mndapat nilai yg memuaskan.

Bersama dosen pembimbing ahli & pembimbing 1 jalan2 di tambang terbuka grasberg,,,,, PT. Freeport Indonesia  Universitas Terbuka Pelalawan Upbjj Universitas Terbuka Denpasar Upbjj Universitas Terbuka Padang Upbjjut Jayapura Upbjj-ut Layanan Luar Negeri Upbjj-ut Palangka Raya

PKL.KERINCI, riaueditor.com  Syahbanides atau sehari-harinya dipanggil Syahban, seorang mahasiswa Universitas Terbuka (UT) yang juga guru honorer di SD 009 Pangkalan Kerinci menyebutkan bahwa dirinya telah melayangkan pengaduan kepada Kejaksaan …

PKL.KERINCI, riaueditor.com - Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Pelalawan MD. Rizal, S.Pd.M.Pd menilai permasalahan mahasiswa UT Syahbanides dengan koordinator Kelompok Belajar Universitas Terbuka (Pokjar) UT tidak harus dibesar-besarkan, karena …

Nee ut

Stand April di Pelalawan Expo 2018

Kami kembali ikut meramaikan Pelalawan Expo 2018. Ayo kunjungi stand APRIL di Blok 1 No.1 mulai dari tanggal 6-12 Oktober 2018. Sahabat bisa melihat bagaimana proses produksi dari kayu menjadi kertas atau dari kayu menjadi serat kain. Sentuh teksturnya, raba, dan lihat dari dekat.

Sahabat juga bisa ikut belajar membatik lho, juga bisa mencicipi produk-produk mitra binaan Community Development RAPP, dan jangan lupa sahabat berfoto selfie/wefie saat di booth APRIL ya, lalu post ke instagram, follow dan  tag @sahabatRAPP jangan lupa sertakan hashtag #APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP hadiah menarik sudah kami siapkan untuk sahabat dengan foto terbaik 😉.

#APRILxPelalawanExpo2018 #sahabatRAPP #PelalawanExpo2018 #Event #Paperone #GoodforCommunity #GoodforClimate #GoodforCountry #Paper #Industry #Sustainable #Concession #CommunityDevelopment #WomenEmpowerment #BatikBono #business #Riau #viscose #acacia #rayon #lifeatAPRIL #RAPPuntukIndonesia

smpn 6 pelalawan

smpn 6 pelalawan

ACARA PELEPASAN SISWA KELAS IX ANGKATAN KE-5 TA. 2015-2016
Selfie bareng all teacher and students smpn 6 pelalawan angkatan ke 5

Selfie bareng guru SMPN 6 pelalawan
acara perpisahan dgn pak Agus Yulianto yg akan pindah tempat tugas ke SOLO

Siswa/siswi SMPN 6 PELALAWAN
KELAS sembilan Saat belajar berkelompok

Belasan Tenaga Pendidik SMPN 6 Pelalawan Ikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Guru: Dalam pelatihan yang dik... https://t.co/3kFGl0WadN
smpn 6 pelalawan

peta kabupaten pelalawan

peta kabupaten pelalawan

ASAL USUL BATURIJAL

Kenegerian Baturijal terdiri dari dua desa, yaitu Baturijal Hulu dan Baturijal Hilir. Masing-masing mempunyai penghulu. Struktur kenegerian dan kepenghuluan ini tidak sesuai dengan struktur keperintahan Republik Indonesia, sehingga dihilangkan. Hanya saja 4 orang yang sempat menjadi wali negeri yaitu Khalil Ali, Muhamad Noeh, Raja Eman dan Saidina Ali.
Baturijal yang berada ditepi Batang Kuantan ini, mempunyai batas wilayah sebagai berikut :
a.Batas wilayah Baturijal Hulu yaitu :
-Sebelah Utara berbatsan dengan Kab. Kampar dan Pelalawan.
-Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Selunak Kec. Peranap.
-Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Pesikaian Kec. Cerenti.
-Sebelah Timur berbatasan dengan Baturijal Hilir Kec. Peranap.
b.Batas wilayah Hilir :
-Sebelah Utara berbatsan dengan Kab. Kampar dan Pelalawan.
-Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Selunak Kec. Peranap.
-Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Baturijal Hulu Kec. Peranap.
-Sebelah Ti…

Wow jokowi

Sembilan Kepala Daerah Kabupaten - Kota se - Propinsi Riau dan Wagubri mendukung secara politis pasangan Capres Ir.Joko Widodo dan Prof.DR.K.H.Maruf Amin sebagai presiden dan wapres tahun 2019-2024.
Walaupun hal tersebut adalah merupakan hak hak individu kepala daerah tsb tapi cukup membuat panas kubu seberangnya dan belum tentu juga rakyat mengikutinya karena rakyat NKRI Propinsi Riau mempunyai hak yang sama dalam hak suara memilih satu orang satu suara bukan lebih.
Kemampuan Kepala daerah yang ganteng2 dgn foto selfie belum tentu mengikuti arah politik pemimpin tsb karena rakyat butuh pembuktian dalam mensejahterakan rakyat Riau dalam berdemokrasi daulat rakyat bukan daulat tuaku.
Kemampuan para pemimpin tsb mendukung tsb apakah karena mendukung tersangkut kasus hukum seperti wako dumai Drs. Zulkifli As Msi dan Zainal Azis Bupati Kampar oleh KPK atau yg lain karena hati nuraninya.
Perintah partai masing masing sebagai pengusung dan pendukung atau kemauan diri sendiri dengan tertarik…